Oleh : Asarpin
Aktivis Uplink Lampung
(Tulisan ini dimuat di
Lampung Post, Kamis, 22 Oktober 2009)
Beberapa hari ini media lokal di Lampung cukup gencar memberitakan rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung membangun kota pantai yang disebut dengan istilah water front city (WFC). Sebagaimana diketahui bersama, kawasan pesisir pantai Bandar Lampung kini paling mendapat tekanan oleh Pemkot disebabkan tingginya intensitas pemanfaatan sumber daya pesisir saat ini. Berkembangnya kawasan pesisir menjadi sentra industri, pemukiman, perhubungan, pariwisata, dan perikanan menjadikan kawasan ini sangat strategis bagi pengembangan sentra bisnis.
Secara sosial dan ekonomi, kampung-kampung yang ada di pesisir pantai Bandar Lampung sepanjang 27 km merupakan fenomena yang menarik karena kebergaman corak budaya, sosial dan ekonominya. Secara budaya kampong-kampung ini sangat unik dan menggambarkan citra perkampungan yang beragam. Secara sosial, kampung pesisir selalu dicirikan sebagai komunitas dengan tingkat kemiskinan yang majemuk. Informalitas dan cara rakyat bekerja dan menghayati kampungnya merupakan inti kehidupan bersama.
Gotong royong, bersih-bersih pantai, bersih-bersih got, dan program penanganan sampah terpadu yang dikelola oleh warga sendiri, serta berbagai bentuk kebersamaan lain, hidup dan berkembang secara dinamik di kampong-kampung pesisir. Di sana terdapat berbagai bentuk kegiatan ekonomi yang beragam; nelayan, buruh, pedagang informal, tukang jahit, ojek, tukang bakar kerupuk kemplang, hingga PSK. Kampung-kampung di pesisir, dengan demikian, bukan hanya tempat "hunian" semata, melainkan juga tempat inetarksi bagi kehidupan yang sesunguhnya.